Kamis, 16 April 2009

bonum commune

Bercermin dari para tokoh katolik dalam
memaknai kembali esensi politik
bonum commune

Manusia adalah zoon politicon kata seorang filsuf Yunani Kuno, Aristoteles. Kata itu mendefinisikan bahwa manusia adalah makhluk yang berpolitik. Ada juga yang mengartikan bahwa manusia tak bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dari ungkapan itu ada kata yang pantas kita cermati bersama, yakni “Politik”. Kata politik mengandung makna sangat luas. Bayangkan peristiwa akhir-akhir ini, bendera-bendera partai terpajang di pinggiran jalan, beramai-ramai orang berkampanye mengumbar janji dan program kerja atas nama bangsa dan negara. Mereka sedang berpolitik. Kata Politik menyiratkan beragam dinamika. Politik bisa menjadi sesuatu yang sangat kejam tapi kita perlukan karena kita tidak bisa hidup tanpa berpolitik dengan orang lain.

Makna politik secara leksikal dipahami sebagai suatu kegiatan dalam negara untuk mengurus kesejahteraan warga negara. Kesejahteraan warga negara itu tampak dalam perwujudan hak-hak seseorang sebagai warga negara. Namun apakah prakteknya demikian? Tujuan etis dari kegiatan politik adalah untuk dehumanisasi (menghumanisasikan hidup). Artinya dengan berkegiatan politik manusia semakin berkembang untuk mewujudkan hak-hak dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai warga negara[1]. Pemaknaan prinsip dan tujuan politik itu sebenarnya selalu murni. Namun terkadang muncul persepsi lain bahwa politik itu kotor. Apakah benar demikian? Kita tentu tidak bisa menghakimi bahwa politik itu kotor. Tidak ada politik yang kotor. Kita harus membedakan antara politik dalam artian hakiki dengan politikus yang sering menyalahgunakan kekuasaan politisnya. Tujuan politik adalah bonum commune, artinya kesejahteraan bersama (umum). Panggilan sejati seorang politikus adalah menjadi pelayan dalam mengusahakan kesejahteraan umum. Kesejahteraan umum harus menjadi cita-cita yang senantiasa dikejar dan diusahakan. Kesejahteraan umum makin mungkin diwujudkan bila keadilan, kemakmuran dan kedamaian terus menerus direalisasikan.

Gereja berpandangan sama tentang citra politik itu. Politik dalam arti sesungguhnya tidaklah kotor melainkan pelaksana politik itu sendiri yang cenderung kotor. Untuk itu dibutuhkan suatu spiritualitas yang menghidupi saat berkecimpung dalam dunia politik. Spiritualitas yang ditimba dari Yesus dalam mengembangkan bonum commune. Politik harus berpihak kepada manusia. Kesejahteraan umum tidak berarti mengorbankan kepentingan individu. Politik adalah sarana untuk mengangkat (humanisasi) hidup manusia. Inilah politik yang benar yakni membebaskan dan memerdekakan manusia dari segala bentuk penindasan, kekerasan politik, manipulasi, ketidakadilan, kebodohan dan kemiskinan dalam kehidupan bersama.

Umat Katolik Berpolitik
Kita tengok para tokoh Katolik pada dekade sebelum 1990-an yang sangat disegani oleh komunitas non -Katolik karena kejujuran dan integritasnya yang tinggi. Para politisi Katolik yang kini mulai menggeliat untuk tampil di percaturan politik menjelang pemilu 2009 perlu sejenak bercermin pada tokoh-tokoh yang memiliki integritas yang tinggi yang tentu saja mereka ini meneladani Yesus Kristus. Ia adalah I.J. Kasimo Hendrowahyono (1900-1986)[2]. I.J. Kasimo seorang Katolik sekaligus politikus tidak pernah melepaskan dari pikiran dan hatinya filosofi bonum commune dan secara tegas menjauhi praktik homo homini lupus (manusia adalah srigala bagi sesamanya). Ini semua terbentuk karena bimbingan hati nurani dan akal sehatnya sebagai seorang politisi Katolik. Ia meneladani Yesus Kristus yang berjuang juga untuk bonum commune. Satu motto yang Kasimo pegang dalam perjuangannya adalah “Salus Populi Suprema Lex”, keselamatan Bangsa merupakan hukum Tertinggi. Artinya kesejahteraan umum ia pahami dan hayati di atas segala-galanya dalam hidup bermasyarakat. I.J. Kasimo sebagai warga negara Indonesia sekaligus umat Katolik bisa dikatakan tahu letak dan peranannya. Agama bagi dirinya memberi visi hidup, inspirasi, orientasi dan motivasi hidup pribadi dan hidup bermasyarakat bersama[3]. Kasimo tampil sebagai politikus yang berkepribadian dalam politik.

Figure pahlawan Negara dan Gereja Mgr. Soegijopranoto, SJ adalah pribadi istimewa yang pantas kita teladani pula. Ia mengungkapkan pro ecclesia et patria menjadi per Ecclesiam pro patria: menjadi Gereja untuk Negara. Jadilah umat Katolik yang sejati, raihlah masa depanmu sesuai dengan nilai-nilai Injili dan ajaran Gereja untuk mengabdi Gereja dan Negara[4]. Sebagai seorang Katolik, ia memberikan dirinya secara total demi perluasan kasih di muka bumi. Ia amat bijaksana dalam menempatkan diri sebagai warga negara Indonesia sekaligus umat Katolik, seratus persen warga negara dan seratus persen katolik. Tidak ketinggalan tokoh Fransiskus Xaverius Frans Seda. Ia banyak berkecimpung dalam dunia politik dalam rentang waktu yang panjang. Ia pernah berkarya sebagai menteri empat departemen dan dipandang sebagai tokoh awam sejati. Ia dikelompokkan dalam segelintir pemikir bersama kaum Klerus yang turut berkiprah dalam membangun negara dan gereja[5].

Mereka adalah tokoh-tokoh Katolik yang berani dengan lantang memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan diri sebagai warga maupun umat beragama. Mereka merasa peduli untuk membangun bangsa. Mereka terusik untuk meneriakkan kesejahteraan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan semata.

Sense of History, Sense of sacrifice, dan sense of priorities
Sejenak kita bercermin dari para tokoh yang berani berjuang dalam dunia politik, yang mengemban kesejahteraan bersama sebagai prioritas utama. Keterlibatan mereka dalam politik menjadi suatu sikap yang pantas kita renungkan. Keterlibatan mereka memberi warna positif, kehadiran mereka memberi perubahan yang baik bagi jalannya suatu pemerintahan. Lantas bagaimana kita bisa ambil bagian seperti mereka? Kita sadar bahwa kita adalah mahluk yang berpolitik. Mau tidak mau kita senantiasa bersentuhan dengan kehidupan politik. Lantas apa yang bisa kita buat? Kita dapat bercermin dan bertanya kepada hati nurani kita bahwa politik sangat penting dijaga kemurniannya. Kesadaran ini mau menempatkan diri dalam suatu kesadaran sejarah hidup yang penting untuk diperjuangkan. Pernah ada yang mengatakan bahwa seorang yang memiliki kesadaran politik, harus pula memiliki kesadaran sejarah (sense of history). Suatu kesadaran bahwa hari kemarin menentukan hari ini dan hari ini menentukan hari esok dalam suatu proses yang kontinyu. Dan yang menentukan penentuan-penentuan tersebut adalah manusia yang memberi bentuk pada kegiatannya. Sebab itu manusia adalah pelaku sejarah. Baik buruknya suatu proses sejarah tergantung kita, pelaku sejarah, bijaksana atau tidak dalam memperjuangkannya. Kesadaran sejarah ini bisa kita temukan dalam diri I.J. Kasimo, Mgr. Soegijopranoto, SJ dll. Mereka sungguh peduli terhadap bangsa dan negara. Kepedulian mereka memberi nuansa positif bagi perkembangan bangsa.
Perjuangan para tokoh dan kita semua umat beriman yang beritikad baik ini membentuk lembaran sejarah yang baru. Meski tidak selalu mudah untuk merealisasikannya sebab disana-sini terkadang peluh dan ari mata turut mewarnainya. Inilah kesadaran pengurbanan yang harus juga tumbuh. Kesadaran untuk terus berjuang dalam suatu pembentukan sejarah yang baik. Inilah kesadaran pengurbanan (sense of sacrifice). Dalam menemukan kesulitan itu, kita diajak menjadi bijaksana. Bahwa tujuan dan motivasi awal berpolitik adalah demi kesejahteraan bersama harus diprioritaskan (sense of priorities). Jika setiap orang yang bergerak dalam dunia politik tidak peduli terhadap kesejahteraan bersama. Niscaya politik menjadi lembaran hitam yang menyisakan luka bagi banyak jiwa.

Akhirnya, kita semua adalah penentu sejarah itu. Keterlibatan dan kepedulian kita, sebagai warga dan umat beriman, sungguh dibutuhkan. Negara Indonesia membutuhkan kearifan berpolitik dari pengelolanya. Untuk itu nilai-nilai moral mesti dibangun di atas merebaknya perilaku politik demi kepentingan sesaat. Tujuan negara harus diutamakan di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Intinya setiap actor/pelaku, termasuk kita, politik harus mengembalikan esensi politik kepada maknanya yang agung. Caranya adalah berpolitik tanpa dusta. Jujurlah dalam bicara dan berbuat demi kesejahteraan bersama (bonum commune), sebagaimana Mgr. Soegijopranata, SJ tegaskan bahwa tugas membangun Gereja serta bangsa tidak pernah selesai. Kekatolikan dan keindonesiaan selalu ditempatkan dalam proses yang dinamis. Kita semua diajak untuk memperjuangkan kebesaran Gereja dan sekaligus untuk tidak kenal lelah mewujudkan kejayaan bangsa dan negara sebagai suatu panggilan suci yang mesti dihidupi[6].

Hari raya kabar sukacita,
Rabu, 25 Maret 2009
frtri



[1] http://www.balinter.net/Politik dan Godaan Kekuasaan
[2] http://citizennews.suaramerdeka/Kegairahan Politik Katolik.com
[3] Pak Kasimo dan Kita, Mingguan Hidup, Ed. Ulang Tahun ke 80 Bapak I.J. Kasimo, Jakarta, 1980.
[4] http://www.mirifica.net//D. Gusti Bagus Kusumawanta, P
[5] http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/frans-seda
[6] Ed, Mikhael Dua, Febiana R. Kainama, Kasdin Sihotang, “Politik Katolik Politik Kebaikan Bersama”, Obor: Jakarta, 23

Jumat, 27 Maret 2009

Perseteruan Hati

Hati bertanya, "Apa gerangan yang terjadi?"
Mengapa sayang itu tumbuh bersemi
dalam perseteruan hati
antara persahabatan, profesi, status, dan
perasaan takut kehilangan
Ijinkan kubertanya, "Apakah perasaanku keliru?"
"Kamu terlalu sentimentil,
kamu terlalu mudah menilai perasaanmu", itu katamu
yang ingin mendamaikan perseteruan hatiku

hehe aku tertawa,
bingung akan apa yang terjadi
akan perasaan yang bersemi
akan waktu yang bergulir pergi
bersamamu dalam mimpi

dan benar,
"rasa ini" tidak boleh tumbuh bersemi,
sebab mungkin terjepit duri,
atau berada pada bentangan batas tak bertepi,

Biarlah rasa sayang tersimpan rapat dalam sebotol sunyi
menyisakan denting dalam hati
lalu sepi......

Sebuah Perseteruan Hati

Ternyata...
cinta tumbuh di dada,
semakin dalam mencintai,
semakin sakit rasa di hati

Jumat, 20 Februari 2009

Untuk Seorang Sahabat

“Seorang sahabat adalah: seseorang yang datang sementara seluruh dunia meninggalkanmu, sesorang yang selalu melihat yang terbaik darimu dan melupakan yang buruk, seseorang yang tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengarkan dan mengerti masalahmu seseorang yang akan mengundang engkau makan bersama tanpa harus menunggu hari uang tahunnya”.


Aku masih ingat kapan terakhir kali kamu datang ke sini.
Saat itu kamu membawakan kebahagiaan yang jarang kurasakan. Dan benar, kehadiranmu sahabat, amat kurindukan.
Kesepian terus membayangiku
Menghabiskan keceriaanku,
Menguras kasih dan cintaku pada sebuah rindu.
Lama ku menunggu,
Lelah ku mencari tanpa batas waktu
Cara paling mudah memuaskan kebutuhan itu
adalah pergi dari rumah ini.
Berkeliling kota, sedikit tebar pesona
Sembari mengumbar mata yang beringas mencari keindahan berharap seseorang kutemukan
dan mau berbagi denganku, siapa pun.
Sahabat adalah tempat yang paling indah untuk berbagi.
Kamu adalah sahabatku, meski tak terlalu kerap bertemu,
Tiga tahun kebersamaan kita telah kujaga
Bahkan ku letakkan dalam ruang istimewa
Dalam pigura istimewa
Dari dedaunan seroja dan wewangian ala eropa
Persahabatan tetap ku jaga.
Tak terbuang dalam pikirku, tak pernah.
Bersamamu adalah kegembiraanku.

SenJa (BerDua) BerSaManYa

Siang itu, 07 Januari 2008, gerimis melanda kota. Langit begitu hitam menghadirkan mega-mega mendung yang surutkan teriknya matahari, yang semestinya bersinar terang hari ini. Tidak seperti biasanya, siang ini ada hati seorang pria yang mengalami kegelisahan. Gelisah atas hujan yang turun tanpa henti. Padahal tidak seperti hujan-hujan sebelumnya. Ia tidak pernah merasa peduli dengan hujan atau tidak. Selain itu, dalam hatinya berkecamuk sejumlah perasaan yang belum pernah ia rasakan pula. Yang jelas, satu sisi ia merasa gelisah dan cemas atas hujan ini namun sekaligus ia pun merasakan ada getar-getar kegembiraan yang tidak pernah ia rasakan dan temukan sebelumnya.
Sesudah makan siang, gerimis masih saja melanda kota ini. Tanah-tanah basah. Dedaunan pun basah. Semua basah. Hawa dingin pun menusuk tulang membuat rasa malas untuk melakukan aktivitas apapun. Ia pun mengalami hal yang sama. Ia langsung menuju kamar, tempat istimewa, tempat yang paling ia suka. Tak lama kemudian komputer dinyalakan dan diputarnya tembang-tembang cinta, seolah mau mengungkapkan perasaannya. Memang, banyak orang bilang, kalau lagu-lagu mampu mewakili perasaan seseorang. Entah bahagia maupun sedih. Pokoknya, lagu-lagu itu mampu merangkumkan perasaan seseorang yang tidak terungkapkan dengan kalimat-kalimat lugas lainnya. Mungkin inilah yang tengah dialami oleh pria itu. Ia mengalami hal yang sama sebagaimana kebanyakan orang alami, yakni ada sejumlah perasaan yang tak mampu terungkapkan dan cukup terwakili dengan sekedar kata-kata gembira, atau senang dan lain sebagainya. Ah, mungkinkah pria itu sedang jatuh cinta?.
Tak lama kemudia handphonenya bergetar. Ada pesan masuk. Tertulis dalam pesan itu sebuah nama yang amat ia kenal. Tak menunggu lama, ia langsung mengambil handphone itu dan membacanya perlahan.
“udan-ne jadi ga?”
Tanpa maksud menjawab secara langsung, ia menuliskan begini :
“ Engga pa2. Hjan’a ga bsar koq. Smoga ntar dah reda. U dah bawa helm to?. Oh ya Tp, mnurtmu sndr bgaimn?” tanpa pikir panjang dan banyak pertimbangan ia langsung sending saja pesan itu.
“Ya Bawalah, ya kalo Nindya cih ga mslh santai getoloh, tapi ntar plge Nindya anter ke t4 krj q lag ya cz jam 08.30 ad tmn mau ket4 krj ok”
“Yap”. Akhirnya jadi juga kami bertemu senja nanti. Meskipun hari masih dilanda gerimis dan langit tampak tidak begitu ceria. Tapi hatinya sendiri tak menampakkan hal itu. Ia tampak bahagia. Dan telah mempersiapkan segalanya dengan sempurna. Sepeda motor di tangan. Uang dikantong. Dan segenggam keberanian telah menggumpal menjadi sebentuk hasrat yang mesti ditumpahkan. Inilah sebuah peristiwa yang telah lama ia nanti. Dinner bersama seorang gadis yang sangat ia sayang, berdua. Sebagaimana ia kerap membayangkannya setiap malam. Ini adalah hari kebahagiaan baginya. Yang mungkin tak akan bisa ia lupakan.
Siang ini, ia menghabiskan waktu bersama lagu-lagu cinta. Ia mencoba membangun suasana yang romantis dalam dirinya. Maklum ia sendiri cukup gugup apabila bicara soal cinta. Ia ingin menghadapi senja ini berdua seperti dalam sinetron-sinetron yang pernah ia lihat atau kisah percintaan ala korea yang tak jarang membuatnya “mupeng”. Ia tidak tidur siang. Ini beda dari biasanya. Maklum, kalau soal tidur ia jagonya, sampai tak tau waktu. Bisa-bisa ia kebablasan sampai malam dan tak jadilah kencannya senja ini. Ia telah mengambil keputusan itu dengan tepat. Tanpa berpikir-pikir lagi , ia habiskan waktu dalam kesendirian sampai waktu yang ia nantikan mendekati dirinya.
Angannya telah merangkak jauh, sejauh terik yang berganti senja. Lama tetapi pasti. Berbagai macam cerita telah ia persiapkan. Berbagai bahan obrolan telah ia rancang. Ia beranggapan bahwa jangan sampai dalam perjalanan bersama dengannya berlalu dengan sia-sia. Jangan sampai sedetikpun berlalu tanpa menyisakan kenangan. Ia telah merencanakan semuanya dengan mantap. Ya…mungkin inilah gejolak kawula muda yang dilanda cinta dan akan berkencan bersama seorang gadis yang sangat ia sayang dan cinta.
Berulang kali tangannya mengambil handphone yang tersanding di depannya. Apa yang ia lihat. Oh, ternyata masih satu jam lagi. Demikian ia lakukan berulang kali. Tak sabar rasanya menunggu sampai jam 16.30. dan matanya pun berulang kali mengamat-amati weker yang ada di depannya, tepat di bawah komputer miilknya. Seakan ingin memastikan kembali, apakah waktu yang ditunjukan dalam handphone benar adanya.
“Huuuh…” sesekali ia menghela nafas panjang. Setelah mengetahui bahwa waktu yang ia tunggu masih begitu lama. Ia jadi tahu bagaimana rasanya menunggu. Mungkin benar kata orang, menunggu adalah saat-saat yang membosankan.
“Nanti lwt per4an bangjo kekanan trs nnt ad per3an ambil kanan lagi trs ad per4an kecil ambil kanan dikit tar dikiri jln ad ruko planet square yg ad pohn palm’a”. sebuah pesan kembali masuk.
“Ok…ntar aq sms u. U aktifkan trs hp u ya”. Sebagai balasan dengan harapan ia akan dapat menemukan tempatnya dengan segera. Maklum ini adalah kali pertama ia menuju tempat Nindya bekerja. Semenjak ia tahu bahwa Nindya bekerja di situ. Tak pernah sekalipun ia menyempatkan waktu mengunjunginya. Senja ini adalah kesempatan terbaik baginya untuk bertandang menemuinya.
Benar juga sebagaimana ia harapkan. Gerimis perlahan mereda meski masih menyisakan mendung pada langit-langitnya. Dedaunan mulai mengering, tinggal sisa tetesnya saja yang berguliran menuju tanah. Tanah-tanah basah dan penuh genangan air perlahan-lahan pun mengering. Airnya menyusut dan menyisakan bopeng, seperti tato emping alias panu yang menempel pada kulit manusia, pada bekas genangan. Haha…...lucu juga membayangkan genangan itu seperti tato emping. Hujan telah reda. Hatinya kian bahagia-berbunga-bunga. Semangatnya berbinar dan tak kalah degup jantungnya pun berlarian mengucurkan peluh kecemasan (alias grogi).
Waktu telah menunjukan pukul 16.30 WIB. Disambanya handuk yang nangkring di gantungan dekat pintu masuk kamarnya beserta alat mandinya. Bergegas menuju kamar mandi. Ia tidak ingin kalau Nindya menunggu terlalu lama. Maka, tidak beberapa lama kemudian, ia telah keluar dari kamar mandi dan sedikit berlari menuju kamar untuk berganti pakaian. Waktu masih cukup baginya untuk berdandan mempersiapkan segala supaya terlihat pantas dipandang. Sekedar parfum ia semprotkan ke tubuhnya.
"emm....wangi....." gumamnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, berangkatlah ia dengan semangat dengan motor pinjaman bahkan tanpa surat-surat yang lengkap. Ya, terang saja, STNK motor itu sedang diperpanjang. Dengan modal nekat, ia memberanikan diri untuk tetap berangkat dengan motor tanpa surat-surat itu. Dengan harapan akan berjalan aman-aman saja. Kendati sebelumnya, ia pun telah meminjam kepada salah seorang temannya yang lain. Tapi, ia tak menghiraukannya lagi. Ia telah memutuskan untuk menanggung segala resiko yang akan ia hadapi.
“Ketilang yo wis” begitu gumamnya dalam hati saat dalam perjalanan menuju tempat Nindya.
Keberangkatannya berjalan lancer. Kendati sempat kesasar juga. Namun dengan segera ia menemukan tempat yang mereka sepakati.
“Nindya aq dah di dpn planet square. U dimn?” Ia menuliskan pesan itu untuk Nindya. Dan tak berapa lama kemudian, seorang perempuan keluar dari sebuah coffee caffe. Senyum terpancar dari wajahnya yang manis, sembari melambaikan tangan mulusnya. Ia pun tersenyum, malu. Jantungnya berdetak semakin keras.
“Gila..semakin cantik saja dia. Rambutnya ia ikat rapi. Tak lupa tas hitam yang ia suka melekat ditubuhnya”. Gumamnya dalam hati sembari mendekati Nindya.
“hai….koq cepet banget tahu tempat ini, ter”
“ya iyalah. Aq gituloh. Aku kan sering main, dolan-dolan”
“Nindy….mau kemana niech..?” Ia sedikit bingung untuk mengawali pembicaraan ini. Ternyata engga mudah saat bertemu langsung dengan orangnya. Berbagai macam rencana yang telah ia persiapkan berlalu begitu saja. Untuk itu, ungkapan-ungkapan spontan lebih kerap muncul. Dan ini benar-benar mengagumkan, bahwa akhirnya mereka bisa berbincang bersama dengan asyiknya.
Ia dan Nindya pergi berdua. Mereka pergi menuju tempat yang sangat istimewa. Hanya berdua.

Jogja, 10 Januari 2008
atas sebuah kisah yang pernah terjadi pada 07 Januari 2008

Sekedar luka hati

Tuhan,
Aku terlalu payah untuk melayaniMu,
Litani keluhan malah kerap terlontar dari mulutku,
bahkan menghiasi benak terdalamku.

Aku tidak begitu gampang memaafkan orang lain
Aku lebih gampang mencela, mencaci atau mengkoreksi,
Tapi terkadang tidak pernah terlontar,
Sebatas emosi di dada
Yang …..tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.

Tuhan,
Aku terlalu payah untuk melayaniMu,
Ternyata aku sibuk dengan diriku sendiri,
Apakah demikian?
Kadang aku malah melawan, berontak…
Ah, tidak. Aku sudah cukup mau berbagi dengan orang lain
Bahkan aku mengorbankan kepentinganku sendiri untuk mereka,
Aku mengorbankan waktu untuk berjalan dari pintu ke pintu
Aku mengetok dari hati ke hati
Dan berjumpa dengan wajah-wajah kemalasan
Ah, Tuhan
Aku terlalu payah untuk melayaniMu,
Mungkin karena aku belum mengenal Mu
Mungkin aku terlalu menutup diri dariMu
Tapi, mau bagaimana lagi,
Terkadang pengalaman berbicara, bahwa Engkau
Tidak b egitu akrab dengan aku.

Tuhan,
Mengapa kita tidak bisa akrab.
Kita kerap kali bertengkar,
Kita kerap kali berbeda pendapat,
Aku ingin ini, sementara kamu ingin itu
Akibatnya, aku menjadi kurang suka denganMu.

Saat Ku SenDirI

KeCemAsan keRap MembAyanGi
TErMasuK MalaM ini
Lagi-laGi….
sAat ku seNdiRi

KenTungAn, 25 SepTember 2007